Kenaikan Kredit Macet Ancam Perbankan di Tahun Depan

MAPPI Jatim – Kredit macet yang digambarkan dari rasio kredit bermasalah (non-performing loans) diprediksi semakin besar tahun depan seiring peningkatan bunga kredit. Kenaikan bunga kredit diperkirakan terjadi sebagai dampak lanjutan dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Meski belum ada kepastian kapan the Fed menaikkan suku bunga, pengamat ekonomi Sunarsip menilai, sektor keuangan mulai merasakan dampaknya. Likuiditas sektor perbankan semakin ketat. Dengan realisasi kenaikan suku bunga the Fed, perbankan khususnya bank menengah ke bawah diprediksi semakin kesulitan mencari likuiditas.

Kenaikan suku bunga the Fed tersebut, lanjutnya, kemungkinan mengerek BI Rate. Bunga kredit dan simpanan pun akan semakin tinggi. “Jika keduanya semakin tinggi, ada kemungkinan kredit macet meningkat. Bukan tidak mungkin, banyaknya aliran dana yang keluar juga berdampak kepada pelemahan rupiah,” ungkap Sunarsip, kemarin.

Dari statistik Otoritas Jasa Keuangan, NPL perbankan pada Agustus 2014 tercatat sebesar 2,31 persen. Angka ini naik dari bulan sebelumnya sebesar 2,24 persen. Kenaikan NPL pada Juli terutama terjadi pada sektor konstruksi, pertambangan, perdagangan, dan jasa sosial.

Ketua Umum Ikatan Bankir Indonesia (IBI) Zulkifli Zaini mengatakan, perbankan perlu berhati-hati jika the Fed menaikkan suku bunga. Investor asing diprediksi akan melakukan reposisi dana untuk mencari imbal hasil yang lebih tinggi.

“Kita harus memahami bahwa sebagian dana yang ada saat ini baik yang ada di bank maupun capital market akan keluar dari Indonesia,” katanya.

Dana pihak ketiga (DPK) di perbankan pun kemungkinan bisa berpindah. Dengan kondisi tersebut, likuiditas di dalam negeri akan semakin ketat. Zulkifli menyarankan perbankan tidak mematok pertumbuhan kredit tinggi dengan kondisi likuiditas tersebut.

Jika likuiditas menurun, bank harus menyesuaikan dengan pertumbuhan kredit yang ada. Rasio kredit terhadap pendanaan atau loan to deposite ratio (LDR) harus dijaga sesuai ketentuan yakni 92 persen. “Kalau DPK turun, LDR akan naik jika kreditnya tetap. Bank harus berhati-hati pada situasi ini,” katanya.

Secara umum, kata Zulkifli, pertumbuhan kredit akan mengikuti pertumbuhan ekonomi. Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen, pertumbuhan kredit diprediksi bisa mencapai 12 persen. Tahun lalu, ketika pertumbuhan ekonomi mencapai enam persen, pertumbuhan kredit mencapai 23 persen.

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

5 Responses

  1. Woh I enjoy your content, saved to favorites!

    Feel free to surf to my web blog dominoqq

  2. You actually make it seem so easy with your
    presentation but I find this matter to be actually
    something that I think I would never understand. It seems too complex and very broad for me.
    I’m looking forward for your next post, I will try to get the hang of
    it!

    My web blog: dominoqq

  3. Hi! This is my first comment here so I just wanted to give a quick shout
    out and say I truly enjoy reading through your articles.
    Can you suggest any other blogs/websites/forums that go over the
    same subjects? Appreciate it!

    My web page – pkv games

  4. Hey! Would you mind if I share your blog with my zynga group?
    There’s a lot of folks that I think would really enjoy your
    content. Please let me know. Thanks

    Feel free to surf to my site; pkv games

  5. Thanks for sharing your thoughts about http://180.215.14.124.
    Regards

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*