Pengukuran Kinerja Berbasis “Shareholder Value Added”

Oleh: Tumpal Sihombing, Direktur Utama Bond Research Institute (Bondri)

KITA sering mendengar pernyataan eksekutif perusahaan bahwa strategi yang mereka lakukan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan. Alfred Rappapport dalam bukunya Creating Shareholder Value mengatakan bahwa hampir semua board director perusahaan di seluruh dunia menerapkan konsep maksimum nilai bagi pemegang saham, tetapi sangat jarang yang menggunakan shareholder value added (SVA) sebagai salah satu ukuran kinerja manajemen. Pertanyaan kita adalah, apakah SVA itu? Bagaimana menciptakan dan mengukurnya?

Direksi yang ditunjuk oleh pemegang saham diberi tugas dan kepercayaan untuk mengelola kekayaan pemegang saham supaya makin berkembang, sehingga cash flow yang dihasilkan makin besar. Nilai (value) adalah present value dari potensi cash flow yang akan dihasilkan oleh perusahaan. Cash flow dihasilkan dari suatu proses perencanaan jangka panjang yang didukung oleh segenap kemampuan yang dimiliki perusahaan.

Lantas, apa cash flow perusahaan itu? Jawabannya tergantung pada metode apa yang kita gunakan. Dalam konsep discounted cash flow method, cash flow dapat berupa free cash flow to the firm (FCFF), free cash flow to equity (FCFE) atau dividen. Apa pun metode yang digunakan, hasilnya bermuara pada nilai ekuitas atau harga saham perusahaan, yang notabene adalah nilai kekayaan pemegang saham.

Bagaimana kita mengukur bahwa rencana jangka panjang yang dibuat manajemen akan memberikan nilai tambah bagi pemegang sahamnya? Untuk itu, kita ambil contoh menghitung cash flow perusahan menggunakan metode FCFF, yaitu metode untuk menilai perusahaan keseluruhan (corporate value).

Penciptaan nilai dimulai dari keputusan yang dibuat oleh manajemen, yaitu investment, financing, dan operating decisions. Keputusan manajemen tersebut dapat dilihat pada neraca perusahaan. Sisi aset dari neraca perusahaan adalah hasil dari investment decision yang dibuat oleh manajemen. Sedangkan sisi utang dan ekuitas adalah hasil dari financing decision untuk mendanai kegiatan investasinya.

Secara fisik, perusahaan digambarkan oleh sisi asetnya. Bila kita perhatikan neraca perusahaan, dana kreditur dan pemilik perusahaan yang tertanam dalam perusahaan digunakan untuk membeli harta tetap (capital expenditure = capex) dan mendanai sebagian modal kerja perusahaan, yang disebut sebagai modal kerja bersih (net working capital). Dalam konsep valuasi, kita hanya memperhitungkan aset yang didanai kreditur dan pemilik perusahaan yang mengandung biaya (cost of capital). Sedangkan harta lancar lainnya didanai dengan utang lancar yang tidak berbiaya (costless), sehingga tidak diperhitungkan dalam menilai perusahaan.

Kegiatan manajemen adalah mengelola aset perusahaan untuk menghasilkan produk atau jasa yang akan dijual kepada konsumen. Berapa besarnya hasil yang diberikan oleh manajemen kepada kreditur dan pemilik perusahaan?

Hasilnya dapat kita lihat pada laporan laba-rugi perusahaan, yaitu sebesar laba operasi perusahaan (earning before interest and taxes = EBIT). EBIT merupakan nilai tambah yang dihasilkan oleh perusahaan yang diberikan kepada kreditur dan pemilik perusahaan. EBIT inilah yang dibagi oleh kreditur dan pemilik perusahaan. Kreditur menerima sebesar biaya bunga, pemilik perusahaan menerima sebesar laba bersih dan sebagian lagi dibayarkan kepada negara berupa pajak.

Dalam konsep manajemen keuangan, nilai tambah yang diciptakan perusahaan inilah yang seharusnya dikenai pajak. Oleh karena itu, salah satu komponen cash inflow yang seharusnya diterima oleh kreditur dan pemilik perusahaan adalah sebesar EBIT x (1-tax) atau disebut juga sebagai net operating profit after tax (NOPAT). Arus kas keluar dan masuk untuk kreditur dan pemegang saham adalah seperti dalam gambar berikut.

SVA adalah selisih antara nilai sekarang (present value = PV) dari kapitalisasi proyeksi perubahan NOPAT dengan nilai sekarang dari perubahan dana yang dikeluarkan kreditur dan pemilik perusahaan untuk mendanai harta tetap dan modal kerja bersih (invested capital). Secara formula dinyatakan sebagai berikut:

SVA = S PV NOPAT – S PV Invested Capital

Jika SVA positif berarti target yang akan dicapai manajemen memberikan nilai tambah bagi pemiliknya, sebaliknya bila SVA bernilai negatif, target proyeksi yang dibuat oleh manajemen tidak memberikan nilai tambah bagi pemiliknya, berarti nilai tambah yang diberikan manajemen berupa NOPAT lebih kecil daripada dana yang diinvestasikan oleh kreditur dan pemegang saham dalam aset perusahaan.

Suatu proyeksi rencana perusahaan yang memberikan laba yang makin meningkat dan arus kas yang makin besar belum tentu memberikan SVA yang positif. Apakah pantas manajemen mendapatkan bonus atas kinerjanya bila dalam perencanaannya jelas kelihatan tidak memberikan SVA yang positif? Jika ya, berarti kenikmatan yang diberikan kepada manajemen diperoleh di atas penderitaan pemegang sahamnya. Bagaimana dengan perusahaan Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*