Enggan Pakai ‘Penilai Koper’

Mengenal Sosok Drs Hari Purwanto, MAPPI (Cert)

Di kalangan para profesi penilai di Jawa Timur, sosok Hari Purwanto sudah bukan asing lagi. Maklum, selain dianggap sebagai ‘senior’ bagi mereka, Hari Purwanto selama ini juga aktif sebagai Wakil Ketua Forum Kantor Jasa Penilai Publik (FKJPP) Jatim.

Pimpinan KJPP Hari Utomo & Rekan ini memang tidak bisa dilepaskan dari dunia penilaian. Sejak era tahun 1980-an ia sudah menekuni profesi ini. Karirnya mulai terbentang ketika taun 1991 ditunjuk sebagai Direktur PT Sarana Penilai.

Hari yang pernah menjabat Ketua Gabungan Perusahaan Penilai Indonesia (Gappi) Jatim ini menceritakan, ia mulai memberanikan diri membuka usaha jasa penilai (UJP) pada 2004 dengan namanya sendiri, UJP Drs Hari Purwanto. Meski baru, namun ia berani membuka kantor di sebuah gedung perkantoran, Graha Pena Surabaya.

Bukan tanpa alasan dia memilih menempatkan kantornya di sebuah gedung perkantoran. “Bagi saya, untuk sebuah usaha jasa, apalagi untuk bisa menggaet klien-klien besar, image kantor juga mempengaruhi. Di saat banyak UJP yang masih memanfaatkan rumah untuk kantor, saya berani menyewa ruang kantor yang memudahkan klien untuk singgah, atau untuk surat-menyurat,” jelasnya.

Bertahan selama beberapa tahun di gedung perkantoran di kawasan Jalan A Yani Surabaya itu, Hari akhirnya pindah ke sebuah ruko, tepatnya Ruko Gateway E-6 Waru, Sidoarjo.

Ditemui di kantornya, Hari menuturkan, jika saat itu, baik jumlah profesi penilai maupun perusahaan yang bergerak di bidang jasa penilai memang masih minim. Bayangkan, saat itu masih terdapat sekitar 35 perusahaan penilai di Jawa Timur. Memang, dengan kondisi perekonomian serta pembangunan yang ada saat itu, jumlah itu memang masih terbilang ideal.

“Memang saat itu kompetisi di dunia penilai publik tidak sesemarak sekarang. Namun saya sudah yakin bahwa profesi ini akan berkembang di masa mendatang. Ini pula yang membuat saya sangat menikmati profesi ini,” ulas Hari.

Hanya saja, yang membedakan antara pekerjaan penilai saat itu dengan sekarang ini, lanjut dia, yakni terkait pembentukan perusahaan atau usaha jasa penilai. Saat itu, papar dia, semua orag bisa membuka UJP yang berbadan hukum.

“Aturan saat itu memang membolehkan mereka yang mesti bukan berprofesi penilai untuk memiliki UJP, asalkan berbadan hukum. Jadi siapa yang punya duit bisa mendirikan UJP,” bebernya.

Namun dalam perkembangannya, seiring dengan terbitnya aturan oleh Kementerian Keuangan, profesionalisme penilai publik kian dihargai, karena kini tidak sembarang orang bisa mendirikan Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Pasalnya, pendiri atau pimpinan KJPP harus memiliki sertifikat penilai yang terdaftar di Kemenkeu.

“Dan kini kesempatan bagi profesi penilai untuk membuka kantor penilai sangat terbuka, karena tidak harus berbentuk PT,” ucap pria yang menempuh studi di Stiesia, Unair, serta S2 di Universitas Bhayangkara Surabaya ini.

Seiring dengan aturan yang mengharuskan UJP berganti KJPP dan bisa bergabung dengan penilai lain, pada tahun 2007 UJP Drs Hari Purwanto pun berubah nama menjadi KJPP Hari Utomo & Rekan. “Saya menggandeng Richard Utomo, sehingga nama kami digabungkan,” ulas ayah dua putra ini.

Kini, KJPP Hari Utomo & Rekan terus mengibarkan benderanya ke sejumlah kota. Selain Surabaya sebagai kantor pusat, ia juga membuka 1 kantor cabang di Jakarta, serta 11 kantor perwakilan di sejumlah kota, seperti Medan, Solo, dan kota-kota lainnya.

“Kami mendorong mereka yang mau maju dan menekuni profesi penilai untuk bergabung di sini. Di kantor Surabaya saja, kami membawahi sekitar 20 orang penilai. Dan memang sudah menjadi komitmen kami bahwa penilaian yang kami kerjakan tetap ditangani oleh penilai resmi kami. Saya tidak mau mensub-kan ke penilai freelance atau istilahnya penilai bawa koper,” tegas Hari.

Hal itu ia lakukan karena didasari oleh komitmen untuk menjaga klien dan hasil penilaian.

Meski demikian, satu hal yang ia dorong bagi para profesi penilai, bahwa apapun peluang untuk maju sangat terbuka. Ia pun juga tak pernah menghalangi ketika seorang penilai yang ia rangkul ingin berwirausaha dengan membentuk KJPP sendiri.

“Beberapa penilai saya juga sudah banyak yang membuka KJPP sendiri. Kami selalu mendukung niat baik mereka. Hanya saja kami selalu berpesan agar melengkapi semua persyaratan dan perizinan yang ada, seperti SBU, Inkindo, Kadin, dan sebagainya,” sebut Hari.

 

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

6 Responses

  1. sukses selalu buat pak hari….

  2. MAJU TERUS “HARI UTOMO” ,………. KIBARKAN BENDERA KE SELURUH INDONESIA,………

  3. Sukses selalu pak.

  4. Good job pak Hari, Maju terus
    Dari Solo

  5. Sukses kagem Lik Hari

  6. terus maju dan sukses selalu, Mr.Harry dari alumni STESIA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*