Bangun Pabrik Coklat di Gresik, Cargill Guyur Investasi Rp 1 Triliun

MAPPI Jatim – Pabrik pengolahan biji kakao dengan nilai investasi US$100 juta atau mendekati Rp1 triliun dibangun Cargill di kawasan industri Maspion V Gresik, Jawa Timur.

Peletakan batu pertama proyek dilakukan Selasa (7/5/2013) kemarin. Proyek pabrik penghasil bubuk kakao, cairan dan lemak kakao (butter) serta produk kakao premium Gerkens diprediksi selesai pertengahan 2014.

“Kami akan melihat pertumbuhan yang signifikan akan permintaan kakao dalam negeri,” jelas Presiden Cargil Cocoa and Chocolate Jos De Loor.

Pabrik di Gresik itu, menurut Jos De Loor diprediksi membutuhkan 70.000 metrik ton biji kakao. Di sisi industri, Cargill menilai pabrik di Indonesia itu bentuk antisipasi berkelanjutan potensi permintaan kakao global.

Sementara di sisi produksi, lanjut dia, perusahaan menargetkan melatih 1.300 petani kakao di Indonesia pada 2015. Langkah itu bertujuan meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao petani.

Tujuan dibangunnya pabrik baru untuk merangsang pertumbuhan dan pengembangan sektor kakao di Asia dalam memenuhi permintaan yang naik terhadap produk kakao di kawasan ini.

Pabrik ini akan menjadi pabrik pengolahan kakao pertama Cargill di Asia, sebagai komitmen Cargill mengembangkan dan menumbuhkan industri kakao di Indonesia dan Asia.

Proyek ini akan menyerap sekitar 200 tenaga kerja baru di Indonesia, demikian juga berbagai posisi di bagian penelitian dan pengembangan kakao yang sebelumnya telah ada di Kuala Lumpur dan Beijing, untuk melayani kebutuhan pelanggan di Asia.

Pabrik ini yang diperkirakan akan rampung pada pertengahan 2014, akan membutuhkan sekitar 70,000 metrik ton biji kakao untuk memproduksi berbagai produk untuk kebutuhan pasar Asia. Hasil dari produksinya akan berbentuk bubuk, cairan dan lemak kakao (butter), termasuk produk bubuk premium kakao GerkensĀ®.

Fasilitas baru ini merupakan bagian dari strategi Cargill dalam mengantisipasi pertumbuhan sektor kakao Indonesia dan upaya perusahaan untuk mendukung produksi kakao berkelanjutan secara global.

Cargill telah memulai program pelatihan petani yang terbilang cukup sukses di Indonesia yang mendorong penggunaan praktik pertanian berkelanjutan oleh petani kecil.

Cargill menargetkan untuk melatih lebih dari 1.300 petani kakao Indonesia pada tahun 2015 melalui Sekolah Pelatihan Lapangan untuk membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas biji kakao dan sebagai hasil dari pelatihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani kecil dan keluarga mereka.

Sejak kami beroperasi tahun 1995, saat ini Cargill memiliki dua lokasi pembelian bahan baku biji kakao yaitu di Makassar dan Palu, dan nanti saat pabrik baru ini beroperasi, Cargill akan melipat gandakan pembelian biji kakao dari petani untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri, yang memberikan kesempatan kepada petani kecil untuk memasarkan hasil panen mereka.

“Kami melihat bahwa untuk memenuhi permintaan pelanggan yang terus meningkat dan untuk mendorong perkebunan kakao masa depan, kami harus memproduksi sendiri untuk memenuhi rantai pasokan tersebut, melalui kerja sama dengan petani kecil, pelanggan dan pemerintah daerah untuk menghidupkan industri kakao Indonesia di masa depan. Hubungan kami dengan petani kakao telah terjalin selama bertahun-tahun, di sejumlah Negara dan wilayah di luar Indonesia,” katanya.

Hadir dalam acara peletakan batu pertama di Gresik dihadiri oleh Gubernur JawaTimur Dr. H. Soekarwo, Bupati Gresik Dr. Ir. H. Sambari Halim Radianto, Wakil dari Kementerian Koordinator Bidang Perkonomian, Kementerian Perindustrian, Deputi Kepala BKPM Bapak Azhar Lubis, Presiden Cargill Cocoa & Chocolate Jos De Loor serta Job Leuning, Kepala Divisi Bisnis Kakao di Asia, dan perwakilan pemerintah daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*