Obsesi Pemprov Jatim Bangun Kluster Gemopolis Terkendala Pembebasan Lahan

MAPPI Jatim – Keinginan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk membangun satu kawasan industri emas terpadu (kluster gemopolis) di wilayah Sidoarjo belum juga terealisasi. Hal ini disebabkan oleh sulitnya pembebasan lahan yang dibutuhkan.

Proyek yang direncanakan sejak tahun 2010 ini awalnya membutuhkan lahan sekitar 100 hektar untuk menampung industri emas, mulai hulu hingga hilir. Namun dengan melihat sulitnya pembebasan lahan, akhirnya rencana tersebut diperkecil menjadi sekitar 15 hektar. Untuk wilayahnya, pemprov Jatim memilih daerah Sedati Sidoarjo karena dekat dengan transportasi udara, yaitu Bandara Internasional Juanda.

“Masih dalam proses. Pembebasan lahan sulit sehingga kami akhirnya mengubah target awal, dari sekitar 100 hektar lahan yang dibutuhkan menjadi sekitar 15 hektar saja. Nantinya, disana akan dibangun industri pengolahan hingga gerai pameran penjualan produk,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Budi Setiawan, hari ini.

Melihat sulitnya pembebasan lahan, Budi tidak bisa memastikan kapan pembangunan kluster gemopolis tersebut bisa dimulai dan terealisasi. Hanya saja, ia sangat berharap proyek ini berjalan sesuai dengan target dan keinginan Pemprov.

Menurutnya, walaupun Jatim tidak memiliki tambang emas yang cukup besar, namun Jatim memiliki potensi menjadi kota penghasil emas perhiasan terbesar di Indonesia. Dan ini harus digarap dengan maksimal.

“Potensi Jatim emnjadi kota penghasil enas perhiasan terbesar ini terlihat dari realisasi ekspor emas Jatim yang cukup besar. Bahkan menjadi komoditas utama ekspor dan menjadi penyumbang ekspor terbesar. Apalagi untuk bahan baku juga sudah tersedia, dari PT Freeport Indonesia di Papua, dari Martapura dan dari Banyuwangi,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan, realisasi ekspor emas perhiasan Jatim Januari hingga April 2014 mencapai US$1,173 miliar, naik 313% dibanding tahun 2013 pada periode yang sama yang hanya dikisaran US$283,935 juta. Sebagian besar ekspor ke daerah Afrika Selatan dan Uni Emirat Arab.

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. Bisa dijelaskan sulitnya pembebasan lahan karena apa. Kalo yg di daerah tambakoso pemilik kavling menanti nanti tanahnya dibeli. Tapi pengepul maunya beli dg harga di bawah NJOP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*